Gak ada yang nyangka Lur.
Dari 18 klub Super League 2026/2027, yang ditunjuk main paling pertama itu kita. Bukan yang lain. PSS Sleman.
Jumat malam. 4 September 2026. Stadion I Wayan Dipta, Bali. Lampu Super League musim baru nyala pertama kali buat laga Bali United vs Super Elang Jawa.
Lur, bayangin. Maguwoharjo kosong Jumat malam, tapi di selatan dan utara udah pada kumpul. Ada yang gulung syal, ada yang cek drum. Padahal tim main di Pulau Dewata.
Senin kemarin Pieter Huistra ditanya wartawan. Pelatih 59 tahun asal Belanda itu ditanya: “Coach, laga pembuka, away ke Bali, gentar gak?”
Dia jawab kalem banget Lur:
“Rasa khawatir itu bukan untuk kami. Kami fokus pada diri sendiri.”
Tapi kalem bukan berarti anggap enteng Lur. Huistra lanjut, “Kami tetap main cara kami, kami cari kelemahan lawan, kami waspadai kekuatan mereka. Makanya pekerjaan rumah harus beres sebelum berangkat.”
Ora Muntir, Lur.
Itu yang Huistra tanam ke semua pemain di Maguwoharjo minggu ini.
Dia lagi obsesif Lur. Setiap latihan dia teriak: “Standar harus naik tahun ini! Semua! Bertahan harus lebih rapet, nyerang harus lebih tajem, bola mati harus lebih bahaya! Bahkan pas musim udah jalan pun harus terus diperbaiki! Cuma itu cara jadi tim lebih baik, cuma itu cara dapet poin banyak!”
Lur, 20 Mei 1976 PSS lahir di Sleman dari 5 tokoh. 50 tahun kemudian, 2026, kita yang disuruh buka panggung kasta tertinggi.
Jumat malam, Dipta Bali, kita yang pertama keluar dari lorong.
Dulurku Sleman, Jumat jam 19.00 kamu di mana Lur?
Di angkringan pakai hijau? Away ke Bali? Atau nonton bareng di sekitar Maguwoharjo?
















