Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
IndonesiaSuper League

Sudah Di-Inden sejak Musim Lalu

15
×

Sudah Di-Inden sejak Musim Lalu

Sebarkan artikel ini
Pemain PSIM, Ondrej Rudzan (jersey putih) saat melawan Persebaya Surabaya.

Ada transfer yang selesai dalam hitungan hari. Ada pula yang harus menunggu berbulan-bulan. Ondrej Rudzan masuk kategori kedua.

Jauh sebelum mengenakan seragam PSIM Jogja, bek asal Republik Ceko itu ternyata sudah lebih dulu mendengar nama Laskar Mataram dan Jean Paul Van Gastel.

Waktunya bahkan bukan ketika bursa transfer musim panas 2026 dibuka. Rudzan sudah mendengar penjajakan dari PSIM sejak musim dingin, tepat ketika bursa transfer paruh musim BRI Super League 2025/2026 berlangsung pada Januari hingga Februari.

Peluang itu sebenarnya terbuka. Namun ada satu hal yang membuat Rudzan tidak mungkin meninggalkan Eropa saat itu.

Istrinya sedang mengandung dan mengalami kehamilan berisiko.

“Sejak musim dingin, saya sudah dengar tentang penjajakan tawaran, juga pelatih dan PSIM. Namun, saat itu tidak memungkinkan karena istri saya sedang hamil dan kehamilannya berisiko, jadi saya tidak bisa pergi,” kata Rudzan, Senin (14/9).

Kesempatan tersebut pun menghilang untuk sementara. PSIM tetap berjalan dengan proyeknya. Rudzan kembali melanjutkan kariernya.

Tetapi cerita itu ternyata belum selesai. Beberapa bulan kemudian, ketika musim panas tiba, telepon dari Jogja kembali berdering.

Kali ini situasinya berbeda. Rudzan siap.

PSIM kembali memberikan tawaran pada Juli 2026. Setelah mempertimbangkan semuanya, sang pemain akhirnya berkata ya.

Tak ada lagi penundaan. Tak ada lagi “mungkin nanti”.

Rudzan resmi datang ke Indonesia dan memulai petualangan baru bersama PSIM. “Dalam sepak bola, semua bisa berubah dengan cepat. Saya mendapat tawaran pada musim panas, kemudian kami memutuskan untuk menerimanya dan sekarang saya berada di sini,” ujarnya.

Dan keputusan tersebut sejauh ini mulai terlihat tepat. Van Gastel langsung memberikan kepercayaan kepada pemain kelahiran 25 Juli 1998 itu. Bukan sebagai pemain pelapis. Bukan sekadar tambahan skuad.

Rudzan langsung masuk dalam sebelas pertama PSIM. Dua pertandingan pertama Super League 2026/2027, dua kali pula namanya muncul dalam starting XI.

Menariknya, posisi yang dipilih Van Gastel adalah bek kiri. Padahal Rudzan memiliki kemampuan bermain di beberapa posisi. Selain bek kiri, ia juga bisa dimainkan sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan.

Fleksibilitas itulah yang membuatnya menjadi aset menarik bagi PSIM. Pada laga pembuka menghadapi Persita Tangerang, Rudzan dipercaya mengawal sisi kiri pertahanan.

Pekan berikutnya, saat PSIM bertandang menghadapi Persebaya Surabaya, kepercayaan yang sama kembali diberikan. Dua pertandingan. Dua starter. Dan itu baru permulaan. Rudzan sendiri tidak datang ke Jogja dengan merasa sudah mengetahui semuanya.

Ia sadar bahwa Indonesia adalah lingkungan baru. Liga baru. Budaya baru. Tuntutan baru. Karena itu, prioritasnya sederhana: beradaptasi secepat mungkin.

“Saya ingin terbuka dan beradaptasi secepat mungkin. Saya pikir semua akan baik, meski masih bisa lebih baik lagi. Saya ingin menjadi yang terbaik yang saya bisa,” tuturnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi perjalanan Rudzan ke PSIM memang dibangun dari proses yang tidak sederhana. Januari: PSIM datang. Februari: Rudzan belum bisa pergi. Juli: PSIM kembali mengetuk pintu.

Agustus-September: Rudzan sudah menjadi bagian dari starting XI Laskar Mataram.

Sepak bola memang penuh perubahan. Dan terkadang, pemain yang awalnya gagal didatangkan justru menjadi bagian penting dari cerita beberapa bulan kemudian.

Rudzan bukan transfer yang datang tiba-tiba. Ia adalah transfer yang sempat tertunda. Dan kini, setelah penantian panjang itu, pemain Republik Ceko tersebut mulai membuktikan mengapa PSIM begitu lama menginginkannya. Jogja akhirnya menjadi tempat yang menunggu Rudzan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *