mainbola.co –Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno memiliki filosofi kepemimpinan yang berbeda dalam mengelola klub berjuluk Laskar Mataram. Ia memilih tidak ikut campur dalam urusan teknis tim dan memberikan kepercayaan penuh kepada pelatih Jean Paul van Gastel.
Keputusan tersebut tetap dipertahankan setelah PSIM sukses melewati musim pertamanya di BRI Super League 2025/2026. Berstatus sebagai tim promosi usai menjadi juara Pegadaian Championship atau Liga 2 2024/2025, PSIM berhasil mengamankan tempat di kasta tertinggi untuk musim berikutnya.
Memasuki BRI Super League 2026/2027, manajemen kembali mempercayakan proyek pembangunan tim kepada Jean Paul van Gastel.
Liana mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin mengambil alih peran yang menjadi tanggung jawab pelatih.
“Saya enggak terlalu berani frontal. Sebagai presdir di sepak bola beda dengan yang saya perhatikan presdir-presdir lain. Saya melihat mereka involved dan berani nyebur. Mungkin karena gendernya ya, laki-laki mungkin mereka berani direct,” ujar Liana, Jumat (3/7).
Ia kemudian mengibaratkan pelatih sebagai seorang chef yang memahami resep terbaik untuk menghasilkan kualitas permainan tim.
“Kalau misalnya saya direct, nanti malah tidak pas, ini kan sudah ada chef-nya. Chef sudah atur takaran tepungnya sekian, gulanya sekian. Terus saya masuk, marah-marah untuk mengubah itu. Saya takut malah jadi berantakan.”
Meski begitu, bukan berarti dirinya tidak pernah melakukan evaluasi langsung. Dalam kondisi tertentu, ia mengaku pernah mengumpulkan seluruh anggota tim saat PSIM menjalani laga tandang di Subang pada kompetisi Liga 2.
“Waktu itu saya sempat marah, saya kumpulkan coach sampai kitman, semua harus ada di ruangan. Tapi saya juga bukan marah seperti ke manajemen. Cara komunikasinya tetap beda.”
Menurut Liana, pendekatan yang lebih sering dilakukan justru berupa dukungan moral kepada pemain agar mampu bangkit ketika menghadapi tekanan kompetisi.
“Belum pernah sih saya benar-benar marah banget. Kalau ke first team justru sifatnya lebih encourage mereka.”
Filosofi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja profesional di PSIM. Dengan pembagian tugas yang jelas antara manajemen dan tim pelatih, Laskar Mataram diharapkan mampu meningkatkan daya saing pada musim kedua mereka di BRI Super League 2026/2027.














