Di balik kesibukan membangun skuad PSIM Jogja untuk menghadapi Super League 2026/2027, ada perubahan menarik yang terjadi pada sosok Direktur PSIM, Liana Tasno. Jika dulu dikenal tegas bahkan keras saat menghadapi persoalan, kini ia mengaku lebih memilih jalan komunikasi dan kolaborasi.
Perubahan itu bukan tanpa alasan. Memimpin klub profesional di kasta tertinggi sepak bola Indonesia membuat Liana menghadapi berbagai dinamika baru, mulai dari negosiasi pemain, komunikasi dengan agen, hingga menjaga stabilitas organisasi di tengah tingginya ekspektasi publik.
Liana mengaku pengalaman-pengalaman tersebut perlahan mengubah cara pandangnya sebagai seorang pemimpin.
“Saya sadar, saya sekarang berbeda banget ya. Dulu misal ada agen bermasalah itu bisa saya berantemin. Kalau sekarang, ya sudah, kamu maunya apa biar pemain ini pindah? Saya baik banget sekarang,” ujarnya, Jumat (31/7).
Pengakuan itu menunjukkan bahwa membangun klub sepak bola modern tak selalu diselesaikan dengan ketegasan semata. Di balik layar, kemampuan bernegosiasi dan menjaga hubungan baik dengan banyak pihak justru menjadi modal penting untuk menjaga iklim kerja yang sehat.
Liana bahkan mengaku sempat heran dengan perubahan sikapnya sendiri. Namun, ia menyadari bahwa suasana positif di dalam klub jauh lebih penting dibanding mempertahankan ego dalam setiap persoalan.
“Saya juga bingung kenapa saya jadi berubah. Tapi yang jelas, saya kepengennya anak-anak saya juga menikmati di PSIM, semua ekosistemnya positif,” katanya.
Menurutnya, membangun PSIM bukan hanya soal mendatangkan pemain berkualitas atau mengejar kemenangan di lapangan. Lebih dari itu, klub harus memiliki budaya kerja yang membuat seluruh elemen merasa nyaman, mulai dari pemain, pelatih, staf, hingga manajemen.
Pendekatan yang lebih terbuka itu juga sejalan dengan arah pembangunan PSIM yang ingin tumbuh secara berkelanjutan. Liana menegaskan perubahan gaya kepemimpinannya bukan berarti ambisi klub ikut melunak. Sebaliknya, ia ingin PSIM berkembang dengan fondasi organisasi yang lebih kuat.
Semangat tersebut kini dirangkum dalam filosofi sederhana yang terus ia tanamkan kepada seluruh elemen klub.
“Bagi saya dan yang saya tekankan ke tim, prinsipnya harus good, better, best,” paparnya.
Moto itu menjadi pengingat bahwa PSIM tidak boleh cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih. Setiap musim harus menjadi langkah menuju kualitas yang lebih baik, baik dari sisi prestasi, profesionalisme, maupun tata kelola klub.
Di tengah ketatnya persaingan Super League, perubahan gaya kepemimpinan Liana Tasno bisa menjadi salah satu modal penting Laskar Mataram. Sebab, membangun tim yang kompetitif bukan hanya soal strategi di lapangan, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang sehat agar seluruh elemen bergerak ke arah yang sama demi membawa PSIM terus berkembang.
















