PSS Sleman memilih jalur pembinaan jangka panjang untuk salah satu talenta mudanya. Menjelang bergulirnya Super League 2026/2027, manajemen resmi meminjamkan Muhammad Fariz ke Bekasi City FC agar mendapat menit bermain yang lebih banyak.
Keputusan tersebut diambil bukan karena Fariz tak masuk dalam rencana tim, melainkan sebagai strategi untuk mempercepat perkembangan pemain berusia 21 tahun itu. Dengan persaingan yang semakin ketat di skuad utama Super Elja, kesempatan tampil reguler dinilai lebih penting bagi proses kematangannya.
Direktur PT Putra Sleman Sembada, Yoni Arseto, membenarkan bahwa Fariz akan menjalani musim ini bersama Bekasi City yang berkompetisi di Championship.
“Iya ada (pemain yang dipinjamkan). Fariz ke Bekasi,” kata Yoni, Jumat (31/7).
Bagi PSS, peminjaman pemain muda bukan sekadar melepas aset klub. Manajemen berharap Fariz memperoleh pengalaman bertanding yang lebih intens, sehingga ketika kembali ke Sleman nanti, ia sudah memiliki mental dan kualitas yang lebih matang untuk bersaing di level Super League.
Fariz sendiri bukan sosok asing bagi sepak bola DIY. Sebelum bergabung dengan PSS, pemain asal Boyolali itu sempat memperkuat rival sekota, PSIM Jogja. Kini, ia akan memulai tantangan baru bersama Bekasi City dengan target mengumpulkan jam terbang sebanyak mungkin.
Langkah ini juga mencerminkan komitmen PSS dalam mengembangkan pemain muda melalui jalur kompetitif. Dibanding hanya menjadi pelapis di bangku cadangan, bermain secara reguler di Championship dinilai akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perkembangan teknik, mental, dan konsistensi permainan Fariz.
Saat ditanya apakah akan ada pemain lain yang dipinjamkan, Yoni memastikan untuk sementara baru Muhammad Fariz yang keluar dari skuad dengan status pinjaman.
“Sementara baru Fariz,” ujarnya singkat.
Dengan keputusan tersebut, PSS berharap Fariz mampu memanfaatkan kesempatan ini sebagai ajang pembuktian. Jika mampu tampil konsisten bersama Bekasi City, bukan tidak mungkin ia akan kembali ke Maguwoharjo dengan status pemain yang lebih siap bersaing memperebutkan tempat di skuad utama Super Elja.
Di sisi lain, langkah ini juga menunjukkan bahwa PSS mulai membangun pola pembinaan yang lebih terstruktur. Pemain muda tidak hanya dipromosikan ke tim senior, tetapi juga diberikan jalur pengembangan melalui kompetisi yang kompetitif agar proses transisi menuju level tertinggi berjalan lebih optimal.
















