Di tengah perombakan besar skuad PSIM Jogja jelang BRI Super League 2026/2027, hanya satu pemain asing yang tetap bertahan dari musim promosi. Dia adalah bek asal Jepang, Yusaku Yamadera.
Yusaku kini menyandang status sebagai pemain asing dengan masa pengabdian terlama di Laskar Mataram. Bergabung sejak Liga 2 musim 2024/2025, ia menjadi bagian penting saat PSIM mengakhiri penantian panjang untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Musim ini, wajah ruang ganti PSIM berubah drastis. Sejumlah pemain asing yang pernah berjuang bersama Yusaku memilih jalan masing-masing. Meski bersyukur masih dipercaya membela klub, bek berusia 28 tahun itu tak menampik ada rasa kehilangan.
“Saya sedih beberapa pemain sudah meninggalkan tim, tapi beginilah sepak bola,” ujar Yusaku, Rabu (29/7).
Menurutnya, pergantian pemain merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sepak bola profesional. Karena itu, ia memilih menerima perubahan tersebut dan mengalihkan fokus untuk membantu PSIM menghadapi tantangan baru di Super League.
“Suatu saat memang akan tiba waktunya seorang pemain harus pergi. Itulah sepak bola, dan saya harus menerimanya,” katanya.
Sebagai pemain yang paling lama bertahan, Yusaku kini memiliki peran baru, yakni membantu membangun chemistry dengan para pemain asing yang baru bergabung. Ia menilai proses adaptasi berjalan cukup positif karena masih banyak pemain lokal yang sudah dikenalnya sejak musim lalu.
Kemampuan berbahasa Indonesia yang terus berkembang juga memudahkan komunikasi di dalam tim. Bahkan, ia mengaku suasana ruang ganti menjadi lebih cair karena para pemain sering saling bercanda.
“Mudah berkomunikasi dengan pemain lokal karena saya sudah bisa sedikit berbahasa Indonesia. Kadang kami saling bercanda, dan masih ada beberapa pemain dari musim lalu yang sudah saya kenal,” tuturnya.
Sementara dengan pemain asing baru, Yusaku mengaku masih dalam tahap saling mengenal. Meski demikian, ia optimistis kebersamaan akan segera terbentuk karena seluruh pemain memiliki tujuan yang sama, yakni membawa PSIM bersaing di Super League.
“Saya belum terlalu mengenal karena memang belum pernah bermain bersama. Tapi kalau kami ingin memenangkan pertandingan, kami harus berjuang bersama. Kami harus makin dekat satu sama lain,” ucapnya.
Untuk mempercepat proses tersebut, para pemain tak hanya berinteraksi saat latihan. Mereka juga rutin menghabiskan waktu bersama di luar lapangan, mulai dari makan malam hingga bermain tenis.
“Kadang kami makan malam bersama, bermain tenis bersama, untuk semakin mendekatkan diri,” ungkap Yusaku.
Kebersamaan itulah yang diharapkan menjadi fondasi kekompakan PSIM saat menghadapi ketatnya persaingan di Super League 2026/2027.
















